5 Sep 2012

Peningkatan Profesionalisme POPT- PHP Dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim


Peningkatan Profesionalisme POPT- PHP Dalam Menghadapi
Dampak Perubahan Iklim
oleh :
Dandan Hendayana,SP
(Kepala BPBTPH Kec.Leles – Kab.Cianjur)

 1.     Latar Belakang
Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat rentan terhadap perubahan iklim yang berdampak pada aspek produktivitas tanaman dan pendapatan petani.  Pemanasan global telah menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim dan ketidakteraturan musim. Dampak tersebut baik langsung maupun tidak langsung terindikasikan melalui tingginya serangan organisme penggangu tanaman (OPT). Karena  fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat telah menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT.
Diperlukan upaya antisipasi dan aplikasi teknologi adaptasi perubahan iklim terhadap serangan OPT. Mengingat  ancaman OPT setiap tahun terus meningkat, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim. Terjadinya  anomali musim, yakni adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT.
Pemantauan dinamika serangan OPT yang dikaitkan dengan perubahan iklim merupakan upaya yang perlu direalisasikan sebagai upaya antisipasi.  Sistem  peringatan dini (early warning system) perlu dibangun.  Sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) bagi petani dan kelompok tani merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang masih sangat relevan untuk dilakukan hingga saat ini. SLPHT telah ditingkatkan menjadi sekolah lapang iklim (SLI) bahkan berkembang menjadi Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SLPTT) dan Sekolah Lapang Pertanian.
Untuk operasionalisasi implementasi sistem peringatan dini serangan OPT perlu ditunjang kelembagaan yang tepat dan kuat. Penelitian dan pengembangan tentang prediksi iklim serta pemodelannya harus terus dilakukan untuk mendukung peningkatan akurasi prediksi serangan OPT di masa yang akan datang.  Selain  itu diperlukan aspek ketenagaan petugas POPT- PHP yang profesional dan pro aktif dalam menjalankan tugas dan fungsinya, yakni mengamati, menganalisis, meramalkan dan mengendalikan OPT. 
Perubahan  iklim global di masa yang akan datang, diperkirakan akan menyebabkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrim meningkat. Dalam hal ini diperlukan kemampuan petugas POPT-PHP untuk mengantisipasi dampak negatif perkembangan OPT yang cepat dan sangat variatif.
Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Beberapa  pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia diantaranya: 1) Intensitas serangan OPT yang meningkat baik dari sisi jenis dan jumlah sebaran. 2) Peningkatan kejadian iklim ekstrim yang ditandai dengan fenomena banjir dan kekeringan, perubahan pola curah hujan, fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat. Hal ini akan menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT.
Untuk mengurangi dampak buruk OPT terhadap produksi dan produktivitas tanaman, diperlukan upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tanggap terhadap variabilitas iklim sekarang dan akan datang. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dipersiapkan tenaga petugas POPT-PHP yang mempunyai kemampuan profesi yang handal (profesional) dalam melakukan upaya pengamatan, analisis, peramalan dan pencegahan serta pengendalian OPT. Terutama berkaitan dengan implementasi sistem peringatan dini terhadap serangan OPT.



2.     Permasalahan Pengaruh Iklim Terhadap Serangan OPT
Fenomena iklim yang terjadi saat ini yakni musim hujan dan kemarau yang berkepanjangan serta munculnya intensitas serangan OPT, mengakibatkan terganggunya budidaya pertanian khususnya tanaman pangan. Dampak  dari fenomena ini dapat terganggunya produksi tanaman pangan. Diperlukan  upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi agar tetap terlaksananya sistem budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik. Sehingga  produksi tetap terjamin dan dapat memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia.
Sejauh ini peran petugas POPT-PHP diharapkan dapat dioptimalisasikan guna mendukung keberhasilan program ketahanan pangan. Berkaitan dengan peran petugas POPT-PHP dan pengaruh iklim terhadap kelangsungan proses produksi pangan, ada dua aspek permasalahan yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
a.       Dampak negatif (baik langsung maupun tidak langsung) perubahan iklim terhadap tingginya intensitas serangan OPT yang terjadi, dapat mempengaruhi keberhasilan proses pengamanan produksi tanaman pangan secara keseluruhan.   
b.       Peningkatan profesionalime kinerja yang harus dilaksanakan petugas POPT-PHP dalam rangka mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim terhadap intensitas serangan OPT yang terjadi.

3.     Pengaruh Negatif Perubahan Iklim Terhadap Serangan OPT
Terjadinya pemanasan global telah menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (el-nino dan la-nina) dan ketidakteraturan musim.  Selama 30 tahun terakhir terjadi peningkatan suhu global secara cepat dan konsisten sebesar 0,2C per dekade. Perubahan iklim global masa yang akan datang, diperkirakan akan menyebabkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrim yang meningkat.
Dampak fenomena atau perubahan iklim yang ekstrim seperti la-nina dan el-nino, serta keanekaragaman stadia tanaman di ekosistem pertanian khususnya tanaman padi sawah, kerap kali menjadi kendala dalam peningkatan produksi.  Pengaruh iklim yang ekstrim tersebut dapat bersifat positif maupun negative.  Pengaruh positif dari el-nino misalnya terputusnya siklus hidup hama akibat kekeringan sehingga tanaman relatif sedikit terutama di lahan tadah hujan, dan kesuburan tanahpun meningkat atau relatif lebih baik karena tanah mengalami masa istirahat selama musim kemarau (aerasi tanah menimgkat).
  Meskipun demikian dalam beberapa kasus cenderung terjadi hal yang bersifat negatif khususnya bagi kehidupan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti terjadinya hibernasi (mengalami masa istirahat selama musim dingin) dan aestivasi (mengalami masa istirahat selama musim panas).  Misalnya Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) membentuk biotipe-biotipe baru selain akibat penggunaan varietas, Larva Penggerek Batang Padi Putih (Scirpophaga sp) mengalami masa diaphause sebelum menjadi dewasa.  Keadaan tersebut dampak dari kombinasi seleksi alam yang cukup kuat.
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Pengaruh  perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia diantaranya perubahan  pola curah hujan yang berdampak pada pergeseran musim dan pola tanam.  Serta  fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang meningkat telah menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT. 
Sehingga tidak jarang kalau pada musim hujan petani banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman seperti penyakit kresek dan blas pada padi, sedangkan pada musim kemarau banyak masalah hama seperti penggerek batang padi, hama belalang kembara. Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim, diantaranya temperatur, kelembaban udara relatif dan fotoperiodisitas telah berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga.
Berbagai fakta menunjukkan bahwa el-nino dan la-nina dapat menstimulasi perkembangan hama dan penyakit tanaman, seperti penggerek batang dan wereng coklat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, belalang di Lampung pada MH 1998 dan penyakit tungro di Jawa Tengah, NTB, dan Sulawesi Selatan. Terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Waktu tanam yang tidak serempak dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi pemicu serangan OPT.
Pengaruh lain dari kejadian iklim ekstrim sering kali menstimulasi ledakan (outbreak) beberapa hama dan penyakit utama tanaman padi, seperti tikus, penggerek batang, wereng coklat dan tungro. Kejadian el-nino pada tahun 1997 yang diiringi la-nina tahun 1998 berdampak pada ledakan serangan hama wereng di beberapa provinsi di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Suhu udara dan kelembaban yang meningkat menyebabkan OPT mudah berkembangbiak. Pada kondisi iklim ekstrim la-nina, peningkatan kelembabam udara sangat signifikan akan  menstimulasi ledakan serangan OPT. Dengan kondisi seperti ini akan memberikan pengaruh buruk terhadap produksi dan produktivitas tanaman.

4.     Peranan POPT-PHP Dalam  Pengendalian OPT
Dengan melihat potensi ancaman terhadap tingginya serangan OPT sebagai akibat dari perubahan iklim. Diperlukan antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi agar tetap terlaksananya budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik. Peran petugas POPT-PHP dipandang cukup penting dan strategis guna melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan kehilangan produksi akibat serangan OPT, akibat pengaruh perubahan iklim.  Dalam hal ini aspek perlindungan tanaman menjadi sangat menentukan bagi program pengamanan produksi tanaman pangan nasional. Oleh karena itu tuntutan kerja yang semakin berat dan kompleksitas permasalahan yang tinggi, menjadikan peran petugas POPT-PHP menjadi semakin besar.
Tugas pokok petugas POPT-PHP adalah merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan, mengevaluasi, membimbing, melaporkan, mengamati, menganalisis, meramalkan dan mengendalikan OPT serta melakukan pengawasan peredaran dan penggunaan pupuk serta bahan pengendali OPT (Permentan No. 73/OT.140/12/2007). Payung hukum pelaksanaan tupoksi petugas POPT-PHP adalah UU No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, PP No. 6 tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan Kepmentan No. 887 tahun 1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT.
Selain melaksanakan tugas pokok di atas, Petugas POPT-PHP juga menyelenggarakan fungsinya, yaitu :
1.    Perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan pengamatan serangan OPT dan DFI (Dampak Fenomena Iklim)
2.    Perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan pengendalian/ penanggulangan OPT dan DFI.
3.    Analisis dan evaluasi perkembangan serangan OPT dan DFI.
4.    Bimbingan dan pendampingan dalam pengendalian/ penanggulangan OPT dan DFI
5.    Pendampingan penyusunan RDK/RDKK di tingkat kelompok tani (khususnya yang berhubungan dengan OPT dan DFI).
6.    Monitoring terhadap harga dan peredaran pupuk bersubsidi.
7.    Identifikasi rekomendasi penggunaan pupuk
8.    Pengawasan dan penggunaan pupuk dan pestisida di tingkat petani;
9.    Pelaporan hasil pengamatan serangan OPT, DFI dan hasil monitoring peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida.

5.     Peningkatan Profesionalisme POPT-PHP Dalam Antisipasi Serangan OPT. 
Dengan melihat tantangan yang semakin besar, sudah barang tentu meminta kapasitas dan kapabiltas petugas POPT-PHP yang semakin ahli dan profesional. Adanya tantangan pekerjaan yang semakin berat di satu sisi, maka di sisi lain perlu diimbangi dengan kemampuan dan kompetensi keahlian yang memadai.  Diperlukan  profesionalitas yang tinggi petugas POPT-PHP  dalam menjalankan tugas dan fungsinya melakukan perindungan tanaman.
Profesionalisme pada intinya adalah kompetensi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar, dalam bidang tertentu yang ditekuninya sedemikian rupa dalam kurun waktu tertentu yang relatif lama sehingga hasil kerjanya bernilai tinggi dan diakui serta diterima masyarakat. Yang dimaksud dengan petugas POPT-PHP yang profesional adalah kemampuan, keahlian atau keterampilan yang dimiliki  petugas POPT-PHP dalam menjalankan tugas perlindungan tanaman yang ditunjang oleh kompetensi dan keahlian yang sesuai.
Peningkatan profesionalisme tenaga POPT-PHP dapat diarahkan pada dua aspek yaitu :
a.  Peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas pokok serta  fungsi POPT-PHP yang berhubungan langsung dengan situasi serangan OPT sebagai akibat dari perubahan iklim. Kegiatan yang harus dilaksanakan diantaranya  adalah :
·      Peningkatan intensitas pengamatan serangan OPT dan deteksi dini gejala-gejala pengaruh perubahan iklim terhadap perkembangan tanaman. Petugas POPT-PHP dituntut untuk melakukan kegiatan perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan pengamatan yang baik dan cermat. Diperlukan  koordinasi yang baik dengan petugas PPL dan KCD (mantri tani) dalam melihat pengaruh yang ditimbulkan dari serangan OPT tersebut.
·      Efektifitas tindakan pengendalian serangan OPT yang muncul sebagai akibat dari dampak perubahan iklim. Dalam hal ini petugas POPT-PHP diharapkan mampu membuat rancangan kegiatan pengendalian yang tepat, baik tepat waktu, tepat alat dan bahan pengendali, tepat lokasi, dan tepat sasaran. Serta  memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
·      Kecermatan dalam melakukan analisis perkembangan OPT. Hal  ini perlu  dilakukan agar  situasi serangan OPT dan tindakan pengendalian yang ditempuh dapat terkontrol dengan baik. Dalam melakukan analisa perkembangan OPT, harus mempertimbangkan beberapa aspek, diantaranya ; jenis tindakan pengendalian,  sebaran lokasi serangan, waktu pengendalian, jenis organisme OPT, dan intensitas serangan, serta tindakan antisipasi alternatif.  
·      Kemampuan melakukan evaluasi hasil kegiatan pengendalian dan melakukan estimasi terhadap serangan OPT. Dalam hal ini petugas  POPT-PHP diharapkan mampu melakukan evaluasi dan membuat deskripsi pelaporan secara akurat dan informatif. Sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh setiap pemangku kepentingan.  Oleh karena itu petugas POPT-PHP dituntut mampu membuat penyajian data dan informasi yang efektif dan efisien. Perlu penguasaan teknik penyajian data, baik yang bersifat tabulasi, spasial, diagram dan naratif.
b.    Peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan kepada petani, tentang pentingnya upaya pencegahan dampak buruk perubahan iklim terhadap proses usaha tani. Selain penjabaran ruang lingkup tugas dan fungsi tersebut diatas. Selanjutnya petugas POPT-PHP membuat  formulasi langkah operasional, dalam rangka pencegahan dampak buruk perubahan iklim terhadap serangan OPT. Tindakan operasional pencegahan ini dapat ditempuh dengan kegiatan yang bersifat fasilitatif, yaitu kegiatan bimbingan dan penyuluhan kepada petani.  
Kegiatan ini dilaksanakan berupa kegiatan teknis edukatif (penyuluhan dan sekolah lapang) dengan sasaran  petani.  Pihak yang bisa diajak kerjasama diantaranya adalah PPL dan KCD.  Dalam kegiatan ini petugas POPT-PHP dapat merancang substansi kegiatan penyuluhan dan sekolah lapang dengan penekanan pada topik :
a.  Bagaimana mengenali tentang perubahan iklim
Pemahaman petani, perubahan iklim adalah terjadinya musim hujan dan kemarau yang sering tidak menentu, sehingga mengganggu kebiasaan petani dalam pelaksanaan usaha tani dan mengancam hasil panen yang akan diperolehnya. Petugas  POPT-PHP dapat menjelaskan kepada petani bahwa mengantisipasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan jalan membandingkan iklim yang biasa terjadi sebelumnya dengan tanda-tanda perubahan iklim yang saat ini terjadi (misalnya suhu udara yang meningkat, pola curah hujan yang tidak menentu dan lain-lain). Bila telah mendapatkan atau merasakan terjadinya tanda- tanda perubahan iklim, maka petugas POPT-PHP dapat menyarankan petani untuk mengupayakan perubahan pelaksanaan usaha tani  yang selama ini dilakukan,  agar proses budidaya tanaman pangan dapat terlaksana dengan baik.
b.  Bagaimana memilih komoditi yang tahan terhadap perubahan cuaca
Dengan  terganggunya tanaman sebagai akibat perubahan iklim maka dapat mengancam hasil panen. Untuk mengatasi hal tersebut petugas POPT-PHP dapat mengarahkan para petani dalam mengantisipasi perubahan iklim dengan jalan menanam komoditas tanaman pangan yang tahan kekeringan atau banjir. Kita ketahui ada beberapa komoditi tanaman pangan yang tahan kekeringan dan kebanjiran misalnya tanaman jagung, tanaman kacang hijau, tanaman kacang tanah, tanaman ubi kayu, talas / kimpul, dan tanaman ganyong. Bila komoditi tanaman pangan ini di usahakan para petani dan dikelola dengan baik, maka sungguhpun terjadi perubahan ikilm mudah- mudahan usaha tani yang dikelola petani akan memberikan hasil sesuai yang diharapkan.
c.   Bagaimana memilih varietas  yang unggul
 Diketahui bahwa dari komoditi yang ada terdapat beberapa varietas unggul yang tahan perubahan iklim. Oleh karena itu para petugas POPT-PHP dan petani di lapangan harus memperhatikan varietas yang akan ditanam disesuaikan dengan kondisi dan antisipasi perubahan iklim yang terjadi. Misalnya jika diperkirakan akan terjadi ekstrim kering maka tanamlah varietas tanaman yang tahan akan kekeringan yang berdasarkan deskripsi varietas dapat diketahui.
Tinggi rendahnya tingkat kuantitas dan kualitas hasil suatu tanaman sebagain besar dipengarahi oleh varietas yang digunakan. Oleh karena itu pemilihan varietas menjadi sangat penting karena varietas unggul memiliki berbagai kelebihan misalnya produktivitas lebih tinggi, lebih toleran terhadap kondisi curah hujan, penyinaran matahari, suhu tanah dan sebagainya. Selain itu varietas yang tinggi produksinya dan tahan terhadap serangan berbagai jenis hama penyakit, kualitas hasil yang lebih baik seperti warna/penampakan, rasa dan lain- lain. Contoh varietas unggul yang tahan terhadap perubahan iklim antara lain; varietas padi Inpari 13, varietas jagung Hibrida P28, dan lain sebagainya.
d.  Bagaimana menentukan jadwal tanam yang sesuai dengan cuaca yang terjadi
Penentuan jadwal tanam dapat dimajukan atau dimundurkan menyesuaikan dengan kondisi cuaca setempat.
 Bila terjadi perubahan iklim misalnya tanda- tanda akan terjadinya musim kemarau yang tidak lama lagi datang, maka para petani disarankan segera mempersiapkan lahan usaha taninya untuk ditanami tanaman pangan yang agak tahan kering seperti tanaman jagung, tanaman kacang tanah, tanaman kacang hijau, tanaman talas, tanaman ubi kayu dan lain-lain.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah dengan jalan pengolahan tanah lebih awal atau habis pemanenan komoditi tertentu seperti padi langsung dilakukan penugalan penanaman jagung di samping larikan padi yang baru dipanen sehingga pengolahan tanah bersamaan waktu penyiangan jagung yang sudah tumbuh. Dengan jalan begitu maka waktu tanam dapat lebih maju dari sebelumnya, sehingga waktu turun hujan yang ada atau tersedianya air dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman pangan yang dikelola para petani di lapangan.
Bila terjadi musim kemarau yang berkepanjangan dan sifatnya musim kemarau yang mendadak, sehingga untuk pengolahan tanah dan penanaman benih / bibit tidak memungkinkan lagi dilakukan segera, bila pun dipaksakan akan menyebabkan bibit/ benih tanaman pangan tidak akan tumbuh dengan baik. Maka selanjutnya yang dilakukan adalah memundurkan waktu pengolahan tanah dan penanaman tanaman pangan tersebut.
Pada waktu musim kemarau yang terjadi berkepanjangan itu, petani berupaya mempersiapkan lahannya sebisanya misalnya menggaruk / membasmi rumput yang ada di lahannya dan memperbaiki bedeng atau tanggul-tanggul yang ada di lahan. Setelah hujan tiba selanjutnya para petani segera mengolah tanah / membalik tanah dan meratakannya. Jika kondisi lahan bagus / tanah gembur lahan tidak usah diolah langsung ditanam dengan menugalkan bibit tanaman yang akan diusahakan misalnya jagung, kacang tanah, kacang hijau atau tanaman lainnya
e.  Bagaimana melakukan diversifikasi tanaman yang cocok
 Untuk mengantisipasi dan adaptasi perubahan iklim yang terjadi  dapat dilakukan dengan jalan pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan yang diusahakan petani di lapangan. Dengan jalan ini diharapkan ancaman perubahan iklim yang terjadi terhadap penurunan produksi tanaman pangan dapat dihindari.
Kita ketahui bersama banyak komoditi tanaman pangan yang tahan kekeringan tetapi secara keseluruhan nilai ekonomisnya memang rendah.  Sebaliknya banyak tanaman pangan yang kurang tahan terhadap perubahan iklim tetapi nilai ekonomisnya tinggi. Oleh karena itu untuk mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi dan mengurangi kegagalan panen dapat dilakukan tanaman diversifikasi antara tanaman ekonomis tinggi dengan ekonomis rendah misalnya tanaman jagung diversifikasi dengan tanaman ubi jalar, tanaman kedelai diversifikasi dengan tanaman talas dan banyak lagi tanaman yang dapat diversifikasi antara satu tanaman dengan tanaman lainnya.
f.    Bagaimana melakukan teknik pengendaian OPT yang  terpadu
Dengan perubahan ikilim yang terjadi maka intensitas serangan hama penyakit pada tanaman akan lebih meningkat, sehingga perlu melakukan antisipasi pengendalian hama penyakit yang lebih baik dan ramah lingkungan. Salah satu pestisida yang ramah lingkungan adalah pestisida organik atau pestisida hewani yang telah banyak dianjurkan para petugas POPT-PHP dan penyuluh pertanian. Karena pestisida organik dan hewani selain ramah lingkungan juga harganya lebih murah dan menampung tenaga kerja setempat.
Pestisida organik tersebut dapat digunakan karena merupakan bahan pemberantasan hama penyakit yang tepat untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi saat ini. Penggunaan pestisida organik ini juga salah satu upaya membantu untuk mengurangi adanya pengrusakan unsur- unsur lingkungan dan unsur-unsur organik tanah yang ada di dalam tanah sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi tersebut dapat mencapai pertumbuhan optimal yang diharapkan.
Penggunaan pestisida organik juga menjaga kesuburan tanah yang tidak terkontaminasi bahan-bahan kimia maka kesuburan tanah tetap terjaga dan mahluk hidup lainnya seperti musuh alami tetap hidup dengan baik. Perubahan iklim yang menyebabkan bergesernya unsur- unsur iklim seperti suhu udara, curah hujan , kelembaban udara, yang mempengaruhi lingkungan sekitar termasuk tanaman pertanian seperti padi dan lain-lain. Dengan menggunakan pestisida organik secara dini maka keadaan pertumbuhan tanaman padi dan tanaman pertanian lainnya akan lebih baik dan lingkungan sekitar juga terpelihara lebih baik.
g.  Bagaimana melakukan pemilihan pupuk  yang tepat dengan kondisi yang terjadi
Penggunaan pupuk organik berupa pupuk kompos atau pupuk kandang sangat baik digunakan para petani di lapangan selain menyuburkan tanaman pangan yang dipelihara sekaligus juga sebagai upaya untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mengantisipasi perubahan iklim. Jika menggunakan pupuk anorganik memang secara cepat menyuburkan tanaman tetapi efek sampingannya merusak struktur tanah dan unsure  organisme yang hidup dalam tanah.
Disarankan para petani di lapangan menggunakan pupuk kompos yang bahan materinya dapat diperoleh dengan mudah dari sisa tanamannya ataupun sisa kotoran hewan yang dipelihara. Dengan menggunakan pupuk kompos atau organik ini selain menyuburkan tanaman, memperbaiki struktur tanah, berkembang organisme dalam tanah juga harga pupuk organik lebih  murah bila dibandingkan dengan pupuk anorganik,  selain itu pupuk organik dapat menampung tenaga kerja setempat.
h.  Bagaimana melakukan teknik pemeliharaan tanaman yang tepat
Untuk mengatisipasi dan adaptasi perubahan iklim yang  terjadi maka dalam pemeliharaan tanaman pangan perlu pemeliharaan yang tepat yaitu meliputi; a) pemupukan tanaman yang baik, waktu pemupukan sebaiknya sore hari atau tidak pada waktu hujan dan pupuk sebaiknya dibenamkan di dalam tanah dekat akar tanaman, b) pemberantasan hama penyakit yang ramah lingkur dengan menggunakan pestisida organik / hewani dan  waktu penyemprotan usahakan angin tidak kencang, c) penyiangan rumput/gulma dilakukan secepat mungkin sehingga tidak terjadi persaingan dalam mengambil unsur hara, d) pengaturan air sebaik mungkin sehingga  hama penyakit tidak berkembang. Jika pelaksanaan pemeliharaan tanaman panga tersebut di atas dilaksanakan dengan baik maka proses pertumbuhan tanaman pangan yang diusahakan para petani di lapangan akan berkembang dengan baik.
i.    Bagaimana melakukan kegiatan panen dan pengolahan pasca panen yang sesuai.   
 Dengan  terjadinya perubahan iklim yang ekstrim kering atau basah maka perencanaan tanam perlu dilakukan dengan baik dengan memperhatikan perkiraan iklim yang terjadi berdasarkan data yang diperoleh dari tanda-tanda yang ada, maupun  data dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Serta  memperhatikan  waktu tanam dan umur tanaman padi sehingga dapat diperkirakan waktu panen tanaman pangan tiba dan pelaksanaan yang benar-benar tepat, baik tepat waktu,  tepat pelaksanaan dan tepat perlakuan. Bila hal ini dilakukan mudah-mudahan hasil panen yang diperoleh petani sesuai dengan harapan bersama, yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani.
Pemanenan merupakan tahap awal yang sangat penting dari seluruh rangkaian kegiatan penangan pasca panen tanaman pangan, karena tidak hanya berpengaruh terhadap kuantitas hasil panen melain juga berpengaruh terhadap kualitasnya.
Dalam mengantisipasi dan adaptasi perubahan iklim perlu dilakukan pengolahan dan pemasaran tanaman pangan yang tepat, misalnya jagung karena pengaruh iklim yang terjadi maka tanaman jagung segera dipanen dengan melakukan penjualan jagung rebus, karena bila dibiarkan sampai kering di tongkol maka pengeringan tidak bagus akibat hujan yang terus menerus. Dengan dijual sebagai jagung muda, maka hasilnya akan lebih baik dan kualitasnya lebih tingi dan para pembeli merasa puas dengan keadaan itu.
Contoh lain misalnya musim kemarau yang panjang maka pemanenan padi dapat dilakukan maksimal sehingga proses pengeringan gabah dapat dilakukan dengan sempurna.

6.     Penutup
Terjadinya pemanasan global telah menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (el-nino dan la-nina) dan ketidakteraturan musim.  Dampak fenomena atau perubahan iklim yang ekstrim seperti la-nina dan el-nino, serta keanekaragaman stadia tanaman di ekosistem pertanian khususnya tanaman padi sawah, kerap kali menjadi kendala dalam peningkatan produksi.  Diperlukan  upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi agar tetap terlaksananya sistem budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik. Peran petugas POPT-PHP dipandang cukup penting dan strategis guna melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan kehilangan produksi akibat serangan OPT, akibat pengaruh perubahan iklim. 
Tugas pokok petugas POPT-PHP adalah merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan, mengevaluasi, membimbing, melaporkan, mengamati, menganalisis, meramalkan dan mengendalikan OPT. Peningkatan profesionalisme tenaga POPT-PHP dapat diarahkan pada dua aspek yaitu ; peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas pokok serta  fungsi POPT-PHP yang berhubungan langsung dengan situasi serangan OPT sebagai akibat dari perubahan iklim. Dan Peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan kepada petani, tentang pentingnya upaya pencegahan dampak buruk perubahan iklim terhadap proses usaha tani.


Daftar Pustaka
Agri Penyuluh.9 Mei 2011. Membangun "Sinergi" Antara PPL & POPT-PHP.Artikel Online (www.sinartani.com)
id.shvoong.com/social-sciences/sociology.Mei.2011.Pengertian Profesionalitas Pegawai.Artikel Online.http:// id.shvoong.com
Mosip,Erinus.2009. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Serta Strategi Antisipasi dan Adaptasi Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Pertanian. Makalah Ilmiah.Program Studi Agroteknologi.Fak.Pertanian  Univ.Jember. Jawa Timur.
Permentan.No.73/OT.140/12/2007. Pedoman Pembinaan Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Pengamat Hama dan Penyakit (POPT-PHP).Kementan RI. Jakarta
Saragih, Ibrahim. Dr.  14 April 2011. Antisipasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Tanaman Pangan. Artikel Online (http://diperta.jabarprov.go.id.). 
Wiyono, Suryo. Dr. M.Sc.Agr. Ir. 29/Jan/2009. Perubahan Iklim Pemicu Ledakan dan Penyakit Tanaman.Makalah/Laporan Hasil Verifikasi Lapangan.Dept.Proteksi Tanaman Faperta IPB.Bogor.

Peningkatan Profesionalisme POPT- PHP Dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim


Peningkatan Profesionalisme POPT- PHP Dalam Menghadapi
Dampak Perubahan Iklim
oleh :
Dandan Hendayana,SP
(Kepala BPBTPH Kec.Leles – Kab.Cianjur)


1.     Latar Belakang
Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat rentan terhadap perubahan iklim yang berdampak pada aspek produktivitas tanaman dan pendapatan petani.  Pemanasan global telah menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim dan ketidakteraturan musim. Dampak tersebut baik langsung maupun tidak langsung terindikasikan melalui tingginya serangan organisme penggangu tanaman (OPT). Karena  fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat telah menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT.
Diperlukan upaya antisipasi dan aplikasi teknologi adaptasi perubahan iklim terhadap serangan OPT. Mengingat  ancaman OPT setiap tahun terus meningkat, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim. Terjadinya  anomali musim, yakni adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT.
Pemantauan dinamika serangan OPT yang dikaitkan dengan perubahan iklim merupakan upaya yang perlu direalisasikan sebagai upaya antisipasi.  Sistem  peringatan dini (early warning system) perlu dibangun.  Sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) bagi petani dan kelompok tani merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang masih sangat relevan untuk dilakukan hingga saat ini. SLPHT telah ditingkatkan menjadi sekolah lapang iklim (SLI) bahkan berkembang menjadi Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SLPTT) dan Sekolah Lapang Pertanian.
Untuk operasionalisasi implementasi sistem peringatan dini serangan OPT perlu ditunjang kelembagaan yang tepat dan kuat. Penelitian dan pengembangan tentang prediksi iklim serta pemodelannya harus terus dilakukan untuk mendukung peningkatan akurasi prediksi serangan OPT di masa yang akan datang.  Selain  itu diperlukan aspek ketenagaan petugas POPT- PHP yang profesional dan pro aktif dalam menjalankan tugas dan fungsinya, yakni mengamati, menganalisis, meramalkan dan mengendalikan OPT. 
Perubahan  iklim global di masa yang akan datang, diperkirakan akan menyebabkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrim meningkat. Dalam hal ini diperlukan kemampuan petugas POPT-PHP untuk mengantisipasi dampak negatif perkembangan OPT yang cepat dan sangat variatif.
Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Beberapa  pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia diantaranya: 1) Intensitas serangan OPT yang meningkat baik dari sisi jenis dan jumlah sebaran. 2) Peningkatan kejadian iklim ekstrim yang ditandai dengan fenomena banjir dan kekeringan, perubahan pola curah hujan, fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat. Hal ini akan menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT.
Untuk mengurangi dampak buruk OPT terhadap produksi dan produktivitas tanaman, diperlukan upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tanggap terhadap variabilitas iklim sekarang dan akan datang. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dipersiapkan tenaga petugas POPT-PHP yang mempunyai kemampuan profesi yang handal (profesional) dalam melakukan upaya pengamatan, analisis, peramalan dan pencegahan serta pengendalian OPT. Terutama berkaitan dengan implementasi sistem peringatan dini terhadap serangan OPT.



2.     Permasalahan Pengaruh Iklim Terhadap Serangan OPT
Fenomena iklim yang terjadi saat ini yakni musim hujan dan kemarau yang berkepanjangan serta munculnya intensitas serangan OPT, mengakibatkan terganggunya budidaya pertanian khususnya tanaman pangan. Dampak  dari fenomena ini dapat terganggunya produksi tanaman pangan. Diperlukan  upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi agar tetap terlaksananya sistem budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik. Sehingga  produksi tetap terjamin dan dapat memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia.
Sejauh ini peran petugas POPT-PHP diharapkan dapat dioptimalisasikan guna mendukung keberhasilan program ketahanan pangan. Berkaitan dengan peran petugas POPT-PHP dan pengaruh iklim terhadap kelangsungan proses produksi pangan, ada dua aspek permasalahan yang perlu mendapat perhatian, yaitu :
a.       Dampak negatif (baik langsung maupun tidak langsung) perubahan iklim terhadap tingginya intensitas serangan OPT yang terjadi, dapat mempengaruhi keberhasilan proses pengamanan produksi tanaman pangan secara keseluruhan.   
b.       Peningkatan profesionalime kinerja yang harus dilaksanakan petugas POPT-PHP dalam rangka mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim terhadap intensitas serangan OPT yang terjadi.

3.     Pengaruh Negatif Perubahan Iklim Terhadap Serangan OPT
Terjadinya pemanasan global telah menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (el-nino dan la-nina) dan ketidakteraturan musim.  Selama 30 tahun terakhir terjadi peningkatan suhu global secara cepat dan konsisten sebesar 0,2o C per dekade. Perubahan iklim global masa yang akan datang, diperkirakan akan menyebabkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrim yang meningkat.
Dampak fenomena atau perubahan iklim yang ekstrim seperti la-nina dan el-nino, serta keanekaragaman stadia tanaman di ekosistem pertanian khususnya tanaman padi sawah, kerap kali menjadi kendala dalam peningkatan produksi.  Pengaruh iklim yang ekstrim tersebut dapat bersifat positif maupun negative.  Pengaruh positif dari el-nino misalnya terputusnya siklus hidup hama akibat kekeringan sehingga tanaman relatif sedikit terutama di lahan tadah hujan, dan kesuburan tanahpun meningkat atau relatif lebih baik karena tanah mengalami masa istirahat selama musim kemarau (aerasi tanah menimgkat).
  Meskipun demikian dalam beberapa kasus cenderung terjadi hal yang bersifat negatif khususnya bagi kehidupan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti terjadinya hibernasi (mengalami masa istirahat selama musim dingin) dan aestivasi (mengalami masa istirahat selama musim panas).  Misalnya Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) membentuk biotipe-biotipe baru selain akibat penggunaan varietas, Larva Penggerek Batang Padi Putih (Scirpophaga sp) mengalami masa diaphause sebelum menjadi dewasa.  Keadaan tersebut dampak dari kombinasi seleksi alam yang cukup kuat.
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Pengaruh  perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia diantaranya perubahan  pola curah hujan yang berdampak pada pergeseran musim dan pola tanam.  Serta  fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang meningkat telah menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT. 
Sehingga tidak jarang kalau pada musim hujan petani banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman seperti penyakit kresek dan blas pada padi, sedangkan pada musim kemarau banyak masalah hama seperti penggerek batang padi, hama belalang kembara. Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim, diantaranya temperatur, kelembaban udara relatif dan fotoperiodisitas telah berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga.
Berbagai fakta menunjukkan bahwa el-nino dan la-nina dapat menstimulasi perkembangan hama dan penyakit tanaman, seperti penggerek batang dan wereng coklat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, belalang di Lampung pada MH 1998 dan penyakit tungro di Jawa Tengah, NTB, dan Sulawesi Selatan. Terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Waktu tanam yang tidak serempak dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi pemicu serangan OPT.
Pengaruh lain dari kejadian iklim ekstrim sering kali menstimulasi ledakan (outbreak) beberapa hama dan penyakit utama tanaman padi, seperti tikus, penggerek batang, wereng coklat dan tungro. Kejadian el-nino pada tahun 1997 yang diiringi la-nina tahun 1998 berdampak pada ledakan serangan hama wereng di beberapa provinsi di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Suhu udara dan kelembaban yang meningkat menyebabkan OPT mudah berkembangbiak. Pada kondisi iklim ekstrim la-nina, peningkatan kelembabam udara sangat signifikan akan  menstimulasi ledakan serangan OPT. Dengan kondisi seperti ini akan memberikan pengaruh buruk terhadap produksi dan produktivitas tanaman.

4.     Peranan POPT-PHP Dalam  Pengendalian OPT
Dengan melihat potensi ancaman terhadap tingginya serangan OPT sebagai akibat dari perubahan iklim. Diperlukan antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi agar tetap terlaksananya budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik. Peran petugas POPT-PHP dipandang cukup penting dan strategis guna melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan kehilangan produksi akibat serangan OPT, akibat pengaruh perubahan iklim.  Dalam hal ini aspek perlindungan tanaman menjadi sangat menentukan bagi program pengamanan produksi tanaman pangan nasional. Oleh karena itu tuntutan kerja yang semakin berat dan kompleksitas permasalahan yang tinggi, menjadikan peran petugas POPT-PHP menjadi semakin besar.
Tugas pokok petugas POPT-PHP adalah merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan, mengevaluasi, membimbing, melaporkan, mengamati, menganalisis, meramalkan dan mengendalikan OPT serta melakukan pengawasan peredaran dan penggunaan pupuk serta bahan pengendali OPT (Permentan No. 73/OT.140/12/2007). Payung hukum pelaksanaan tupoksi petugas POPT-PHP adalah UU No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, PP No. 6 tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan Kepmentan No. 887 tahun 1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT.
Selain melaksanakan tugas pokok di atas, Petugas POPT-PHP juga menyelenggarakan fungsinya, yaitu :
1.    Perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan pengamatan serangan OPT dan DFI (Dampak Fenomena Iklim)
2.    Perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan pengendalian/ penanggulangan OPT dan DFI.
3.    Analisis dan evaluasi perkembangan serangan OPT dan DFI.
4.    Bimbingan dan pendampingan dalam pengendalian/ penanggulangan OPT dan DFI
5.    Pendampingan penyusunan RDK/RDKK di tingkat kelompok tani (khususnya yang berhubungan dengan OPT dan DFI).
6.    Monitoring terhadap harga dan peredaran pupuk bersubsidi.
7.    Identifikasi rekomendasi penggunaan pupuk
8.    Pengawasan dan penggunaan pupuk dan pestisida di tingkat petani;
9.    Pelaporan hasil pengamatan serangan OPT, DFI dan hasil monitoring peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida.

5.     Peningkatan Profesionalisme POPT-PHP Dalam Antisipasi Serangan OPT. 
Dengan melihat tantangan yang semakin besar, sudah barang tentu meminta kapasitas dan kapabiltas petugas POPT-PHP yang semakin ahli dan profesional. Adanya tantangan pekerjaan yang semakin berat di satu sisi, maka di sisi lain perlu diimbangi dengan kemampuan dan kompetensi keahlian yang memadai.  Diperlukan  profesionalitas yang tinggi petugas POPT-PHP  dalam menjalankan tugas dan fungsinya melakukan perindungan tanaman.
Profesionalisme pada intinya adalah kompetensi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar, dalam bidang tertentu yang ditekuninya sedemikian rupa dalam kurun waktu tertentu yang relatif lama sehingga hasil kerjanya bernilai tinggi dan diakui serta diterima masyarakat. Yang dimaksud dengan petugas POPT-PHP yang profesional adalah kemampuan, keahlian atau keterampilan yang dimiliki  petugas POPT-PHP dalam menjalankan tugas perlindungan tanaman yang ditunjang oleh kompetensi dan keahlian yang sesuai.
Peningkatan profesionalisme tenaga POPT-PHP dapat diarahkan pada dua aspek yaitu :
a.  Peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas pokok serta  fungsi POPT-PHP yang berhubungan langsung dengan situasi serangan OPT sebagai akibat dari perubahan iklim. Kegiatan yang harus dilaksanakan diantaranya  adalah :
·      Peningkatan intensitas pengamatan serangan OPT dan deteksi dini gejala-gejala pengaruh perubahan iklim terhadap perkembangan tanaman. Petugas POPT-PHP dituntut untuk melakukan kegiatan perencanaan, penyiapan dan pelaksanaan pengamatan yang baik dan cermat. Diperlukan  koordinasi yang baik dengan petugas PPL dan KCD (mantri tani) dalam melihat pengaruh yang ditimbulkan dari serangan OPT tersebut.
·      Efektifitas tindakan pengendalian serangan OPT yang muncul sebagai akibat dari dampak perubahan iklim. Dalam hal ini petugas POPT-PHP diharapkan mampu membuat rancangan kegiatan pengendalian yang tepat, baik tepat waktu, tepat alat dan bahan pengendali, tepat lokasi, dan tepat sasaran. Serta  memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
·      Kecermatan dalam melakukan analisis perkembangan OPT. Hal  ini perlu  dilakukan agar  situasi serangan OPT dan tindakan pengendalian yang ditempuh dapat terkontrol dengan baik. Dalam melakukan analisa perkembangan OPT, harus mempertimbangkan beberapa aspek, diantaranya ; jenis tindakan pengendalian,  sebaran lokasi serangan, waktu pengendalian, jenis organisme OPT, dan intensitas serangan, serta tindakan antisipasi alternatif.  
·      Kemampuan melakukan evaluasi hasil kegiatan pengendalian dan melakukan estimasi terhadap serangan OPT. Dalam hal ini petugas  POPT-PHP diharapkan mampu melakukan evaluasi dan membuat deskripsi pelaporan secara akurat dan informatif. Sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh setiap pemangku kepentingan.  Oleh karena itu petugas POPT-PHP dituntut mampu membuat penyajian data dan informasi yang efektif dan efisien. Perlu penguasaan teknik penyajian data, baik yang bersifat tabulasi, spasial, diagram dan naratif.
b.    Peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan kepada petani, tentang pentingnya upaya pencegahan dampak buruk perubahan iklim terhadap proses usaha tani. Selain penjabaran ruang lingkup tugas dan fungsi tersebut diatas. Selanjutnya petugas POPT-PHP membuat  formulasi langkah operasional, dalam rangka pencegahan dampak buruk perubahan iklim terhadap serangan OPT. Tindakan operasional pencegahan ini dapat ditempuh dengan kegiatan yang bersifat fasilitatif, yaitu kegiatan bimbingan dan penyuluhan kepada petani.  
Kegiatan ini dilaksanakan berupa kegiatan teknis edukatif (penyuluhan dan sekolah lapang) dengan sasaran  petani.  Pihak yang bisa diajak kerjasama diantaranya adalah PPL dan KCD.  Dalam kegiatan ini petugas POPT-PHP dapat merancang substansi kegiatan penyuluhan dan sekolah lapang dengan penekanan pada topik :
a.  Bagaimana mengenali tentang perubahan iklim
Pemahaman petani, perubahan iklim adalah terjadinya musim hujan dan kemarau yang sering tidak menentu, sehingga mengganggu kebiasaan petani dalam pelaksanaan usaha tani dan mengancam hasil panen yang akan diperolehnya. Petugas  POPT-PHP dapat menjelaskan kepada petani bahwa mengantisipasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan jalan membandingkan iklim yang biasa terjadi sebelumnya dengan tanda-tanda perubahan iklim yang saat ini terjadi (misalnya suhu udara yang meningkat, pola curah hujan yang tidak menentu dan lain-lain). Bila telah mendapatkan atau merasakan terjadinya tanda- tanda perubahan iklim, maka petugas POPT-PHP dapat menyarankan petani untuk mengupayakan perubahan pelaksanaan usaha tani  yang selama ini dilakukan,  agar proses budidaya tanaman pangan dapat terlaksana dengan baik.
b.  Bagaimana memilih komoditi yang tahan terhadap perubahan cuaca
Dengan  terganggunya tanaman sebagai akibat perubahan iklim maka dapat mengancam hasil panen. Untuk mengatasi hal tersebut petugas POPT-PHP dapat mengarahkan para petani dalam mengantisipasi perubahan iklim dengan jalan menanam komoditas tanaman pangan yang tahan kekeringan atau banjir. Kita ketahui ada beberapa komoditi tanaman pangan yang tahan kekeringan dan kebanjiran misalnya tanaman jagung, tanaman kacang hijau, tanaman kacang tanah, tanaman ubi kayu, talas / kimpul, dan tanaman ganyong. Bila komoditi tanaman pangan ini di usahakan para petani dan dikelola dengan baik, maka sungguhpun terjadi perubahan ikilm mudah- mudahan usaha tani yang dikelola petani akan memberikan hasil sesuai yang diharapkan.
c.   Bagaimana memilih varietas  yang unggul
 Diketahui bahwa dari komoditi yang ada terdapat beberapa varietas unggul yang tahan perubahan iklim. Oleh karena itu para petugas POPT-PHP dan petani di lapangan harus memperhatikan varietas yang akan ditanam disesuaikan dengan kondisi dan antisipasi perubahan iklim yang terjadi. Misalnya jika diperkirakan akan terjadi ekstrim kering maka tanamlah varietas tanaman yang tahan akan kekeringan yang berdasarkan deskripsi varietas dapat diketahui.
Tinggi rendahnya tingkat kuantitas dan kualitas hasil suatu tanaman sebagain besar dipengarahi oleh varietas yang digunakan. Oleh karena itu pemilihan varietas menjadi sangat penting karena varietas unggul memiliki berbagai kelebihan misalnya produktivitas lebih tinggi, lebih toleran terhadap kondisi curah hujan, penyinaran matahari, suhu tanah dan sebagainya. Selain itu varietas yang tinggi produksinya dan tahan terhadap serangan berbagai jenis hama penyakit, kualitas hasil yang lebih baik seperti warna/penampakan, rasa dan lain- lain. Contoh varietas unggul yang tahan terhadap perubahan iklim antara lain; varietas padi Inpari 13, varietas jagung Hibrida P28, dan lain sebagainya.
d.  Bagaimana menentukan jadwal tanam yang sesuai dengan cuaca yang terjadi
Penentuan jadwal tanam dapat dimajukan atau dimundurkan menyesuaikan dengan kondisi cuaca setempat.
 Bila terjadi perubahan iklim misalnya tanda- tanda akan terjadinya musim kemarau yang tidak lama lagi datang, maka para petani disarankan segera mempersiapkan lahan usaha taninya untuk ditanami tanaman pangan yang agak tahan kering seperti tanaman jagung, tanaman kacang tanah, tanaman kacang hijau, tanaman talas, tanaman ubi kayu dan lain-lain.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah dengan jalan pengolahan tanah lebih awal atau habis pemanenan komoditi tertentu seperti padi langsung dilakukan penugalan penanaman jagung di samping larikan padi yang baru dipanen sehingga pengolahan tanah bersamaan waktu penyiangan jagung yang sudah tumbuh. Dengan jalan begitu maka waktu tanam dapat lebih maju dari sebelumnya, sehingga waktu turun hujan yang ada atau tersedianya air dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman pangan yang dikelola para petani di lapangan.
Bila terjadi musim kemarau yang berkepanjangan dan sifatnya musim kemarau yang mendadak, sehingga untuk pengolahan tanah dan penanaman benih / bibit tidak memungkinkan lagi dilakukan segera, bila pun dipaksakan akan menyebabkan bibit/ benih tanaman pangan tidak akan tumbuh dengan baik. Maka selanjutnya yang dilakukan adalah memundurkan waktu pengolahan tanah dan penanaman tanaman pangan tersebut.
Pada waktu musim kemarau yang terjadi berkepanjangan itu, petani berupaya mempersiapkan lahannya sebisanya misalnya menggaruk / membasmi rumput yang ada di lahannya dan memperbaiki bedeng atau tanggul-tanggul yang ada di lahan. Setelah hujan tiba selanjutnya para petani segera mengolah tanah / membalik tanah dan meratakannya. Jika kondisi lahan bagus / tanah gembur lahan tidak usah diolah langsung ditanam dengan menugalkan bibit tanaman yang akan diusahakan misalnya jagung, kacang tanah, kacang hijau atau tanaman lainnya
e.  Bagaimana melakukan diversifikasi tanaman yang cocok
 Untuk mengantisipasi dan adaptasi perubahan iklim yang terjadi  dapat dilakukan dengan jalan pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan yang diusahakan petani di lapangan. Dengan jalan ini diharapkan ancaman perubahan iklim yang terjadi terhadap penurunan produksi tanaman pangan dapat dihindari.
Kita ketahui bersama banyak komoditi tanaman pangan yang tahan kekeringan tetapi secara keseluruhan nilai ekonomisnya memang rendah.  Sebaliknya banyak tanaman pangan yang kurang tahan terhadap perubahan iklim tetapi nilai ekonomisnya tinggi. Oleh karena itu untuk mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi dan mengurangi kegagalan panen dapat dilakukan tanaman diversifikasi antara tanaman ekonomis tinggi dengan ekonomis rendah misalnya tanaman jagung diversifikasi dengan tanaman ubi jalar, tanaman kedelai diversifikasi dengan tanaman talas dan banyak lagi tanaman yang dapat diversifikasi antara satu tanaman dengan tanaman lainnya.
f.    Bagaimana melakukan teknik pengendaian OPT yang  terpadu
Dengan perubahan ikilim yang terjadi maka intensitas serangan hama penyakit pada tanaman akan lebih meningkat, sehingga perlu melakukan antisipasi pengendalian hama penyakit yang lebih baik dan ramah lingkungan. Salah satu pestisida yang ramah lingkungan adalah pestisida organik atau pestisida hewani yang telah banyak dianjurkan para petugas POPT-PHP dan penyuluh pertanian. Karena pestisida organik dan hewani selain ramah lingkungan juga harganya lebih murah dan menampung tenaga kerja setempat.
Pestisida organik tersebut dapat digunakan karena merupakan bahan pemberantasan hama penyakit yang tepat untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi saat ini. Penggunaan pestisida organik ini juga salah satu upaya membantu untuk mengurangi adanya pengrusakan unsur- unsur lingkungan dan unsur-unsur organik tanah yang ada di dalam tanah sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi tersebut dapat mencapai pertumbuhan optimal yang diharapkan.
Penggunaan pestisida organik juga menjaga kesuburan tanah yang tidak terkontaminasi bahan-bahan kimia maka kesuburan tanah tetap terjaga dan mahluk hidup lainnya seperti musuh alami tetap hidup dengan baik. Perubahan iklim yang menyebabkan bergesernya unsur- unsur iklim seperti suhu udara, curah hujan , kelembaban udara, yang mempengaruhi lingkungan sekitar termasuk tanaman pertanian seperti padi dan lain-lain. Dengan menggunakan pestisida organik secara dini maka keadaan pertumbuhan tanaman padi dan tanaman pertanian lainnya akan lebih baik dan lingkungan sekitar juga terpelihara lebih baik.
g.  Bagaimana melakukan pemilihan pupuk  yang tepat dengan kondisi yang terjadi
Penggunaan pupuk organik berupa pupuk kompos atau pupuk kandang sangat baik digunakan para petani di lapangan selain menyuburkan tanaman pangan yang dipelihara sekaligus juga sebagai upaya untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mengantisipasi perubahan iklim. Jika menggunakan pupuk anorganik memang secara cepat menyuburkan tanaman tetapi efek sampingannya merusak struktur tanah dan unsure  organisme yang hidup dalam tanah.
Disarankan para petani di lapangan menggunakan pupuk kompos yang bahan materinya dapat diperoleh dengan mudah dari sisa tanamannya ataupun sisa kotoran hewan yang dipelihara. Dengan menggunakan pupuk kompos atau organik ini selain menyuburkan tanaman, memperbaiki struktur tanah, berkembang organisme dalam tanah juga harga pupuk organik lebih  murah bila dibandingkan dengan pupuk anorganik,  selain itu pupuk organik dapat menampung tenaga kerja setempat.
h.  Bagaimana melakukan teknik pemeliharaan tanaman yang tepat
Untuk mengatisipasi dan adaptasi perubahan iklim yang  terjadi maka dalam pemeliharaan tanaman pangan perlu pemeliharaan yang tepat yaitu meliputi; a) pemupukan tanaman yang baik, waktu pemupukan sebaiknya sore hari atau tidak pada waktu hujan dan pupuk sebaiknya dibenamkan di dalam tanah dekat akar tanaman, b) pemberantasan hama penyakit yang ramah lingkur dengan menggunakan pestisida organik / hewani dan  waktu penyemprotan usahakan angin tidak kencang, c) penyiangan rumput/gulma dilakukan secepat mungkin sehingga tidak terjadi persaingan dalam mengambil unsur hara, d) pengaturan air sebaik mungkin sehingga  hama penyakit tidak berkembang. Jika pelaksanaan pemeliharaan tanaman panga tersebut di atas dilaksanakan dengan baik maka proses pertumbuhan tanaman pangan yang diusahakan para petani di lapangan akan berkembang dengan baik.
i.    Bagaimana melakukan kegiatan panen dan pengolahan pasca panen yang sesuai.   
 Dengan  terjadinya perubahan iklim yang ekstrim kering atau basah maka perencanaan tanam perlu dilakukan dengan baik dengan memperhatikan perkiraan iklim yang terjadi berdasarkan data yang diperoleh dari tanda-tanda yang ada, maupun  data dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Serta  memperhatikan  waktu tanam dan umur tanaman padi sehingga dapat diperkirakan waktu panen tanaman pangan tiba dan pelaksanaan yang benar-benar tepat, baik tepat waktu,  tepat pelaksanaan dan tepat perlakuan. Bila hal ini dilakukan mudah-mudahan hasil panen yang diperoleh petani sesuai dengan harapan bersama, yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani.
Pemanenan merupakan tahap awal yang sangat penting dari seluruh rangkaian kegiatan penangan pasca panen tanaman pangan, karena tidak hanya berpengaruh terhadap kuantitas hasil panen melain juga berpengaruh terhadap kualitasnya.
Dalam mengantisipasi dan adaptasi perubahan iklim perlu dilakukan pengolahan dan pemasaran tanaman pangan yang tepat, misalnya jagung karena pengaruh iklim yang terjadi maka tanaman jagung segera dipanen dengan melakukan penjualan jagung rebus, karena bila dibiarkan sampai kering di tongkol maka pengeringan tidak bagus akibat hujan yang terus menerus. Dengan dijual sebagai jagung muda, maka hasilnya akan lebih baik dan kualitasnya lebih tingi dan para pembeli merasa puas dengan keadaan itu.
Contoh lain misalnya musim kemarau yang panjang maka pemanenan padi dapat dilakukan maksimal sehingga proses pengeringan gabah dapat dilakukan dengan sempurna.

6.     Penutup
Terjadinya pemanasan global telah menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (el-nino dan la-nina) dan ketidakteraturan musim.  Dampak fenomena atau perubahan iklim yang ekstrim seperti la-nina dan el-nino, serta keanekaragaman stadia tanaman di ekosistem pertanian khususnya tanaman padi sawah, kerap kali menjadi kendala dalam peningkatan produksi.  Diperlukan  upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi agar tetap terlaksananya sistem budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik. Peran petugas POPT-PHP dipandang cukup penting dan strategis guna melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap peningkatan kehilangan produksi akibat serangan OPT, akibat pengaruh perubahan iklim. 
Tugas pokok petugas POPT-PHP adalah merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan, mengevaluasi, membimbing, melaporkan, mengamati, menganalisis, meramalkan dan mengendalikan OPT. Peningkatan profesionalisme tenaga POPT-PHP dapat diarahkan pada dua aspek yaitu ; peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas pokok serta  fungsi POPT-PHP yang berhubungan langsung dengan situasi serangan OPT sebagai akibat dari perubahan iklim. Dan Peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan kepada petani, tentang pentingnya upaya pencegahan dampak buruk perubahan iklim terhadap proses usaha tani.
 

Daftar Pustaka
Agri Penyuluh.9 Mei 2011. Membangun "Sinergi" Antara PPL & POPT-PHP.Artikel Online (www.sinartani.com)
id.shvoong.com/social-sciences/sociology.Mei.2011.Pengertian Profesionalitas Pegawai.Artikel Online.http:// id.shvoong.com
Mosip,Erinus.2009. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Serta Strategi Antisipasi dan Adaptasi Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Pertanian. Makalah Ilmiah.Program Studi Agroteknologi.Fak.Pertanian  Univ.Jember. Jawa Timur.
Permentan.No.73/OT.140/12/2007. Pedoman Pembinaan Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Pengamat Hama dan Penyakit (POPT-PHP).Kementan RI. Jakarta
Saragih, Ibrahim. Dr.  14 April 2011. Antisipasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Tanaman Pangan. Artikel Online (http://diperta.jabarprov.go.id.). 
Wiyono, Suryo. Dr. M.Sc.Agr. Ir. 29/Jan/2009. Perubahan Iklim Pemicu Ledakan dan Penyakit Tanaman.Makalah/Laporan Hasil Verifikasi Lapangan.Dept.Proteksi Tanaman Faperta IPB.Bogor.

Link other site

Follower

Share it